KONDISI-KONDISI YANG MENYEBABKAN KEGAWATDARURATAN NEONATUS

January 15th, 2010

1. Hipotermia

Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.

Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 250C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.

Akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.

Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain : prematuritas, asfiksia, sepsis, kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran dan eksposure suhu lingkungan yang dingin.

Penanganan hipotermia ditujukan pada: 1) Mencegah hipotermia, 2) Mengenal bayi dengan hipotermia, 3) Mengenal resiko hipotermia, 4) Tindakan pada hipotermia. Tanda-tanda klinis hipotermia:

a. Hipotermia sedang (suhu tubuh 320C – <360C ), tanda-tandanya antara lain : kaki teraba dingin, kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata.

b. Hipotermia berat (suhu tubuh < 320C ), tanda-tandanya antara lain : sama dengan hipotermia sedang, dan disertai dengan pernafasan lambat tidak teratur, bunyi jantung lambat, terkadang disertai hipoglikemi dan asidosisi metabolik.

c. Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)

2. Hipertermia

Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi. Hipertermia terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas daripada mengeluarkan panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.

Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat stroke adalah kondisi akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan benda yang mempunyai panas berlebihan. Sehingga mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak terkendali dan menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali. Hipertermia karena reaksi negative obat jarang terjadi. Salah satu hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi maligna yang merupakan komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.

Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba panas, pelebaran pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuangan panas, bibir bengkak. Tanda-tanda dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan serangan panas dapat menghasilkan mual, muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah. Hal ini dapat menyebabkan pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba. Tachycardia dan tachypnea dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan jantung. Penurunan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, mengakibatkan kulit pucat atau warna kebiru-biruan dalam kasus-kasus lanjutan stroke panas. Beberapa korban, terutama anak-anak kecil, mungkin kejang-kejang. Akhirnya, sebagai organ tubuh mulai gagal, ketidaksadaran dan koma akan menghasilkan.

3. Hiperglikemia

Hiperglikemia atau gula darah tinggi adalah suatu kondisi dimana jumlah glukosa dalam plasma darah berlebihan.

Hiperglikemia disebabkan oleh diabetes mellitus. Pada diabetes melitus, hiperglikemia biasanya disebabkan karena kadar insulin yang rendah dan / atau oleh resistensi insulin pada sel. Kadar insulin rendah dan / atau resistensi insulin tubuh disebabkan karena kegagalan tubuh mengkonversi glukosa menjadi glikogen, pada akhirnyanya membuat sulit atau tidak mungkin untuk menghilangkan kelebihan glukosa dari darah.
Gejala hiperglikemia antara lain : polifagi (sering kelaparan), polidipsi (sering haus), poliuri (sering buang air kecil), penglihatan kabur, kelelahan, berat badan menurun, sulit terjadi penyembuhan luka, mulut kering, kulit kering atau gatal, impotensi (pria), infeksi berulang, kussmaul hiperventilasi, arrhythmia, pingsan, koma.

4. Tetanus neonaturum

Tetanus neonaturum adalah penyakit tetanus yang diderita oleh bayi baru lahir yang disebabkan karena basil klostridium tetani.

Tanda-tanda klinis antara laian : bayi tiba-tiba panas dan tidak mau minum, mulut mencucu seperti mulut ikan, mudah terangsang, gelisah (kadang-kadang menangis) dan sering kejang disertai sianosis, kaku kuduk sampai opistotonus, ekstremitas terulur dan kaku, dahi berkerut, alis mata terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.

Penatalaksanaan yang dapat diberikan : bersihkan jalan napas, longgarkan atau buka p akaian bayi, masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam mulut bayi, ciptakan lingkungan yang tenang dan berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang.

5. Penyakit-penyakit pada ibu hamil

Kehamilan Trimester I dan II, yaitu : anemia kehamilan, hiperemesis gravidarum, abortus, kehamilan ektopik terganggu (implantasi diluar rongga uterus), molahidatidosa (proliferasi abnormal dari vili khorialis).

Kehamilan Trimester III, yaitu : kehamilan dengan hipertensi (hipertensi essensial, pre eklampsi, eklampsi), perdarahan antepartum (solusio plasenta (lepasnya plasenta dari tempat implantasi), plasenta previa (implantasi plasenta terletak antara atau pada daerah serviks), insertio velamentosa, ruptur sinus marginalis, plasenta sirkumvalata).

ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN

May 5th, 2009

Jejas lahir merupakan istilah untuk menunjukkan trauma mekanik yang dapat dihindari atau tidak dapat dihindari, serta trauma anoksia yang dialami bayi selama kelahiran dan persalinan. Beberapa macam jejas persalinan yang akan dibahas, antara lain :

1. Caput Suksadenum

Caput suksadenum adalah pembengkakan yang edematosa atau kadang-kadang ekimotik dan difus dari jaringan lunak kulit kepala yang mengenai bagian yang telah dilahirkan selama persalinan verteks. Edema pada caput suksadenum dapat hilang pada hari pertama, sehingga tidak diperlukan terapi. Tetapi jika terjadi ekimosis yang luas, dapat diberikan indikasi fototerapi untuk kecenderungan hiperbilirubin.

Kadang-kadang caput suksadenum disertai dengan molding atau penumpangan tulang parietalis, tetapi tanda tersebut dapat hilang setelah satu minggu.

2. Sefalhematoma

Sefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Sefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Sefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya. Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.

3. Trauma pleksus brakialis

Jejas pada pleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.

Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma.

Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.

4. Fraktur klavikula

Tanda dan gejala yang tampak pada bayi yang mengalami fraktur klavikula antara lain : bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena, krepitasi dan ketidakteraturan tulang, kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur, tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena, adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.

5. Fraktur humerus

Pada fraktur humerus ditandai dengan tidak adanya gerakan tungkai spontan, tidak adanya reflek moro.

Penangan pada fraktur humerus dapat optimal jika dilakukan pada 2-4 minggu dengan imobilisasi tungkai yang mengalami fraktur.

TUGAS !

  1. Carilah informasi mengenai jejas persalinan (terutama yang ada pada silabus)
  2. Lengkapi pengetahuan anda mengenai paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke
  3. Buatlah rangkuman dan kumpulkan satu minggu dari pemberian tugas
  4. Kumpulkan rangkuman anda dalam bentuk softfile melalui email dengan alamat miedha_74@yahoo.co.id
  5. Kumpulkan rangkuman anda dalam bentuk tulisan tangan kepada mbak erika di bagian akademik DIV Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS di Bagian Histologi FK UNS
  6. Terima kasih dan selamat mengerjakan
  7. Lampirkankan printout materi perkuliahan ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN
  8. Pelajari materi KELAINAN BAWAAN PADA NEONATUS, BAYI, ANAK DAN BALITA

KELAINAN METABOLISME DAN KELAINAN ENDOKRIN SERTA PENATALAKSANAANNYA

May 5th, 2009

I. KELAIANAN METABOLISME

Anak-anak dengan kelainan metabolisme bawaan mempunyai satu atau lebih tanda-tanda dan gejala-gejala yang sangat bervariasi. Tanda dan gejala kelainan metabolisme bawaan antara lain : asidosis metabolik, muntah terus menerus, pertumbuhan terhambat, perkembangan abnormal, kadar metabolit tertentu pada darah dan urin meningkat, misalnya, asam amino atau amonia, bau yang khas pada urin, atau perubahan fisik seperti hepatomegali. Diagnosis untuk menegakkan kelainan metabolisme bawaan yaitu dengan memisahkan tanda dan gejala yang tampak pada periode neonatus dan yang tampak pada anak setelah periode neonatus.

Pada saat lahir, neonatus dengan gangguan metabolik biasanya normal, namun beberapa jam setelah kelahiran timbul tanda-tanda atau gejala-gejala seperti letargi, nafsu makan yang rendah, konvulsi, dan muntah-muntah.

Kebanyakan kelainan metabolisme bawaab diturunkan sebagai sifat resesif autosom, sehingga riwayat kekerabatan dan/atau kematian dalam periode neonatus pada keluarga dekat akan meningkatkan kecurigaan terhadap diagnosis kelainan metabolisme bawaan.

Manifestasi klinik kelainan metabolisme bawaan pada anak, antara lain : retardasi mental, defisit motorik dan konvulsi.

Kelainan metabolisme bawaan dapat terjadi akibat gangguan metabolisme asam amino, gangguan metabolisme lipid atau asam lemak, gangguan metabolisme karbohidrat dan gangguan metabolisme mukopolisakarida.

II. KELAINAN ENDOKRIN

Tanda dan gejala pada kelainan endokrin tergantung pada kelenjar endokrin yang mengalami kelainan.

Bentuk-bentuk kelainan endokrin, antara lain : hiperpituitarisme, hipopituitarisme, diabetes insipidus, diabetes mellitus, hipotiroidisme, tiroiditis, karsinoma tiroid, hipoparatiroidisme, pseusoparatiroidisme, hiperparatiroidisme, insufisiensi adrenokorteks, sindrom adenogenital, sindrom cushing, hipogonadisme hipergonadotropik, hipogonadisme hipogonadotropik.

TUGAS!

  1. Buatlah makalah dalam kelompok dengan tema kelainan metabolisme dan kelainan endokrin
  2. Bentuk menjadi 4 kelompok
  3. Kumpulkan makalahnya kepada mbak erika bagian akademik DIV Kebidana FK UNS
  4. Malakah dikumpulkan selmbt-lambatnya satu minggu setelah pemberian tugas.
  5. Makalah akan dipresentasikan pada pertemuan selanjutnya
  6. Terima kasih

KELAINAN BAWAAN PADA NEONATUS DAN PENATALAKSANAANNYA

May 5th, 2009

Kelainan bawaan pada neonatus dapat terjadi pada berbagai organ tubuh. Dibawah ini beberapa kelainan bawaan pada neonatus, antara lain :

1. Labioskizis dan Labiopalatoskizis

Labioskizis atau labiopalatiskizis merupakan konginetal anomaly yang berupa kelainan bentuk pada struktur wajah, yang terjadi karena kegagalan proses penutupan procesus nasal medial dan maxilaris selama perkembangan fetus dalam kandungan

Etiologi :

Kegagalan pada fase embrio yang penyebab belum diketahui

Faktor Herediter

Abnormal kromosom, mutasi gen dan teratogen

Manifestasi Klinik :

* Palatoskizis

- Distorsi pada hidung

- Adanya celah pada bibir

* Labioskizis

- Adanya celah pada tekak (uvula), palatum durum dan palatum mole

Adanya rongga pada hidung sebagai celah pada langit-langit

- Distorsi hidung

Penatalaksanaan :

Tergantung pada beratnya kecacatan

Pertahankan pemberian nutrisi yang adekuat

Cegah terjadinya komplikasi

Dilakukan pembedahan

2. Atresia Esophagus

Atresia esophagus adalah gangguan pembentukan dan pergerakan lipatan pasangan kranial dan satu lipatan kaudal pada usus depan primitif

Etiologi dari atresia esophagus yaitu kegagalan pada fase embrio terutama pada bayi yang lahir prematur

Manifestasi klinik pada neonatus dengan atresia esophagus antara lain :

-Hhipersekresi cairan dari mulut

- Gangguan menelan makanan (tersedak, batuk)

Penatalaksanaan :

Pertahankan posisi bayi atau pasien dalam posisi tengkurap, bertujuan untuk meminimalkan terjadinya aspirasi

Pertahankan keefektifan fungsi respirasi

Dilakukan tindakan pembedahan

3. Atresia Rekti dan Atresia Anus

Atresia rekti yaitu obstruksi pada rektum (sekitar 2 c dari batas kulit anus). Pada pasien ini, umumnya memiliki kanal dan anus yang normal

Atresia anus yaitu obstruksi pada anus

Etiologi

Malformasi kongenital

Manifestasi Klinik

- Tidak bisa BAB melalui anus

- Distensi abdomen

- Tidak dapat dilakukan pemeriksaan suhu rektal

- Perut kembung

- Muntah

Penatalaksanaan :

Dilakukan tindakan kolostomi

4. Hirschprung

Hirschprung merupakan kelainan konginetal berupa obstruksi pada sistem pencernaan yang disebabkan oleh karena menurunnya kemampuan motilitas kolon, sehingga mengakibatkan tidak adanya ganglionik usus

Etiologi :

Kegagalan pembentukan saluran pencernaan selama masa perkembangan fetus

Tanda dan Gejala :

Konstipasi/tidak bisa BAB/diare

Distensi abdomen

Muntah

Dinding abdomen tipis

Penatalaksanaan :

Pengangkatan aganglionik (usus yang dilatasi)

Dilakukan tindakan Colostomi

Pertahankan pemberian nutrisi yang adekuat

5. Obstruksi Billiaris

Obstruksi billiaris adalah tersumbatnya saluran kandung empedu karena terbentuknya jaringan fibrosis

Etiologi :

- Degenerasi sekunder

- Kelainan kongenital

Tanda dan Gejala :

- Ikterik (pada umur 2-3 minggu)

- Peningkatan billirubin direct dalam serum (kerusakan parenkim hati, sehingga bilirubin indirek meningkat)

- Bilirubinuria

- Tinja berwarna seperti dempul

- Terjadi hepatomegali

Penatalaksanaan

Pembedahan

6. Omfalokel

Omfalokel merupakan hernia pada pusat, sehingga isi perut keluar dalam kantong peritoneum

Etiologi

Kegagalan alat dalam untuk kembali ke rongga abdomen pada waktu janin berumur 10 minggu

Tanda dan Gejala

- Gangguan pencernaan, karena polisitemia  dan hiperinsulin

- Berat badan lahir > 2500 gr

Penatalaksanaan

- Bila kantong belum pecah, diberikan merkurokrom yang bertujuan untuk penebalan selaput yang menutupi kantong

- Pembedahan

7. Hernia Diafragmatika

Hernia diafragmatika terjadi akibat isi rongga perut masuk ke dalam lobang diafragma

Etiologi

Kegagalan penutupan kanalis pleuroperitoneum posterolateral selama kehamilan minggu ke-8

Tanda dan Gejala

- Bayi mengalami sesak napas

- Bayi mengalami muntah karena obstruksi usus

Penatalaksanaan

Berikan diit RKTP

Berikan Extracorporeal Membrane Oxygenation (EMCO)

Dilakukan tindakan pembedahan

8. Atresia Duodeni

Atresia Duodeni adalah obstruksi lumen usus oleh membran utuh, tali fibrosa yang menghubungkan dua ujung kantong duodenum yang buntu pendek, atau suatu celah antara ujung-ujung duodenum yang tidak bersambung

Etiologi

- Kegagalan rekanalisasi lumen usus selama masa kehamilan minggu ke-4 dan ke-5

Banyak terjadi pada bayi yang lahir prematur

Tanda dan Gejala

Bayi muntah tanpa disertai distensi abdomen

Ikterik

Penatalaksanaan

- Pemberian terapi cairan intravena

Dilakukan tindakan duodenoduodenostomi

9. Meningokel dan Ensefalokel

Meningokel dan ensefalokel yaitu adanya defek pada penutupan spina yang berhubungan dengan pertumbuhan yang abnormal korda spinalis atau penutupannya

Etiologi

Gangguan pembentukan komponen janin saat dalam kandungan

Tanda dan Gejala

- Gangguan persarafan

- Gangguan mental

- Gangguan tingkat kesadaran

Penatalaksanaan

Pembedahan

10. Hidrosefalus

Hidrosefalus merupakan kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya Liquor Cerebrospinal (LCS). Kadang disertai dengan peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial)

Etiologi

Gangguan sirkulasi LCS

Gangguan produksi LCS

Tanda dan Gejala

Terjadi pembesaran tengkorak

Terjadi kelainan neurologis, yaitu Sun Set Sign (Mata selalu mengarah kebawah)

Gangguan perkembangan motorik

Gangguan penglihatan karena atrofi saraf penglihatan

Penatalaksanaan

Pembedahan

Pemasangan “Suchn Suction”

11. Fimosis

Fimosis merupakan pengkerutan atau penciutan kulit depan penis atau suatu keadaan normal yang sering ditemukan pada bayi baru lahir atau anak kecil, dan biasanya pada masa pubertas akan menghilang dengan sendirinya

Etiologi

Malformasi konginetal

Tanda dan Gejala

Gangguan proses berkemih

Penatalaksanaan

Dilakukan tindakan sirkumsisi

12. Hipospadia

Hipospadia yaitu lubang uretra tidak terletak pada tempatnya, mis : berada di bawah penis
Etiologi

Uretra terlalu pendek, sehingga tidak mencapai glans penis

Kelainan terbatas pada uretra anterior dan leher kandung kemih

Merupakan kelainan konginetal

Tanda dan Gejala

Penis agak bengkok

Kadang terjadi keluhan miksi, jika disertai stenosis pada meatus externus

Penatalaksanaan

Pada bayi : dilakukan tindakan kordektomi

Pada usia 2-4 tahun : dilakukan rekonstruksi uretra

Tunda tindakan sirkumsisi, hingga kulit preputium penis/scrotum dapat digunakan pada tindakan neouretra

SEXUALITAS DAN GENDER

May 5th, 2009

Sejak dua darsawarsa terakhir, wacana tentang gender telah menjadi bahasa yang telah memasuki setiap analisis social dan menjadi pokok bahasan dalam perdebatan mengenai perubahan social serta menjadi topic penting dalam setiap perbincangan mengenai tugas, hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki.

Istilah gender yang relative baru dalam kalangan masyrakat dan banyak masyarakat yang belum memahami gender secara utuh, sehingga memunculkan berbagai pendapat, sikap dan cara pandang yang berbeda terhadap pengertian gender. Pada umumnya, masyarakat memahami konsep gender sama dengan pengertian jenis kelamin (seks).

Pengertian

· Seks = pemahaman kelamin secara biologis, alat kelamin pria dan wanita

· Seksualitas = segala sesuatu yang berkaitan dengan seks, dapat dalam bentuk nilai, orientasi dan perilaku seksual

· Gender = status dan peran yang diberikan oleh masyarakat terhadap pria atau wanita

Dimensi Seksualitas

· Dimensi Sosiokultural

· Dimensi Agama dan Etik

· Dimensi Psikologis

Gender

Gender mengacu pada perbedaan peran dan tanggung jawab sosial bagi pria dan wanita yang dibentuk oleh budaya

Isu Mengenai Gender

· Masalah perempuan dan kemiskinan terjadi karena kemiskinan struktural akibat kebijaksanaan pembangunan dan sosial budaya yang berlaku

· Kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi perempuan meningkatkan posisi tawar-menawar menuju kesetaraan gender

· Masalah kesehatan wanita dan hak reproduksi yang kurang mendapatkan perhatian dan pelayanan yang memadai

· Kekerasan fisik atau non fisik terhadap perempuan dalam rumah tangga maupun tempat kerja tanpa perlindungan hukum

· Perlindungan dan pengayoman terhadap hak2 asasi perempuan secara sosial maupun hukum masih lemah

· Keterbatasan akses perempuan terhadap media massa, sehingga ada kecenderungan media informasi menggunakan tubuh wanita sebagai media promosi dan eksploitasi murahan

· Perempuan paling rentan terhadap pencemaran lingkungan seperti air bersih, sampah industri dan pencemaran lingkungan yang lain

· Terbatasnya kesempatan dalam potensi diri perempuan

· Terbatasnya lembaga2 dan mekanisme yang memperjuangkan perempuan

· Perempuan yang berada didaerah konflik dan kerusuhan, banyak yang menjadi korban kekejaman dan kekerasan

· Terbatasnya akses ekonomi perempuan untuk berusaha dibidang ekonomi produktif termasuk mendapatkan modal dan pelatihan usaha

· Keikutsertaan perempuan dalam merumuskan dan mengambil keputusan dalam keluarga, masyarakat dan negara masih terbatas

Isu Gender dalam Lingkup Kesehatan Reproduksi

- Safe Motherhood

Ketidakmampuan perempuan dalam mengambil keputusan, kaitannya dengan kesehatan wanita, sikap dan perilaku keluarga yang cenderung mengutamakan laki2 (tuntutan peran ganda)

- KB

Kesertaan ber-KB 98% perempuan (SDKI, 1997), perempuan tidak mempunyai kekuatan memutuskan metode kontrasepsi. Dalam pengambilan keputusan laki2 lebih dominan

- Kesrep Remaja

Ketidakadilan dalam membagi tanggung jawab dan ketidakadilan dalam aspek hukum

- PMS

Perempuan selalu dijadikan objek intervensi dalam program pemberantasan PMS

Penanganan terhadap Isu Gender

· Masalah kesehatan reproduksi dapat terjadi sepanjang siklus hidup manusia

· Perempuan lebih rentan dalam menghadapi risiko kesehatan reproduksi

· Masalah kesehatan reproduksi tidak terpisahkan dari hubungan laki2 dan perempuan

· Perlunya kepedulian dan tanggung jawab laki-laki

· Perempuan rentan terhadap kekerasan domestik

· Kesehatan reproduksi lebih banyak dikaitkan dengan urusan gender

Pengarus-utamaan Gender

Ø Merupakan penerapan kepedulian gender dalam analisis, formulasi, implementasi dan pemantauan kebijaksanaan dan program dengan tujuan mencegah terjadinya ketidaksetaraan gender

Ø Suatu proses penelahaan implikasi terhadap perempuan dan laki2 dari setiap kegiatan, program, kebijakan, UU dari setiap bidang dan tingkat.

Ø Suatu strategi untuk memasukkan isu dan pengalaman perempuan dan laki2 ke dalam suatu dimensi yang integral dalam rancangan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program dalam setiap bidang. Agar laki2 dan perempuan mendapat manfaat yang sama.

Ø Sasaran utama : mencapai kesetaraan gender

Upaya Kesetaraan Gender diIndonesia

· Memprioritaskan bidang-bidang yang b.d pemberdayaan perempuan, a.l : (Meneg UPW 1998)

· Pemberdayaan perempuan disegala aspek kehidupan, terutama pendidikan, kesehatan dan akses terhadap sumber daya

· Keadilan gender melalui pelaksanaan Gender Man Stream dalam program pembangunan, disamping tetap melaksanakan program2 dalam upaya peningkatkan peran perempuan dalam pembangunan

· Penghapusan kekerasan terhadap perempuan melalui kebijaksanaan zero toleransi

· Melindungi hak asasi perempuan dan anak

· Memperkuat kemampuan perempuan di tingkat nasional dan regional

· Menetapkan tentang keadilan dan kesetaraan gender sebagai tujuan pembangunan nasional (GBHN 1999-2004)

Gender Main Stream(GSM)

Tujuan

UMUM :

· Memastikan bahwa semua kebijaksanaan dan program kesehatan mampu menciptakan dan memelihara kondisi kesehatan yang optimal baik untuk laki2 atau perempuan dari semua kelompok umur, secara adil dan setara dengan mengatasi berbagai hambatan yang terkait dengan gender

KHUSUS :

· Menciptakan suasana yang mendukung untuk memasukkan kepedulian gender dalam kebijaksanaan, rencana program , pelaksanaan dan evaluasi

· Mengidentifikasi dan menganalisa berbagai faktor yang menjadi penyebab kesenjangan gender dalam upaya peningkatan derajat kesehatan

· Memasukkan kepedulian gender dalam berbagai upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan mengutamakan kelompok rawan dan kelompok miskin

· Memantau penerapan GSM dan efeknya terhadap derajat kesehatan laki2 dan perempuan, serta kesenjangan antara keduanya

v Strategi

1. Pengumpulan data kesehatan melalui sensus, survei nasional dan sistim informasi kesehatan. Diseminasi informasi spesifik gender. Melaksanakan penelitian yang menunjang

2. Advokasi dan sensitisasi para penentu kebijaksanaan dan pengelola program serta petugas kesehatan

3. Menganalisa kebijakan dengan pendekatan perspektif gender.Menemukan upaya untuk mengurangi kesenjangan gender melalui kebijakan

4. Mengembangkan kapasitas program untuk mendesain program berwawasan gender.

5. Memobilisasi sumber2 dan kemitraan, melalui kerjasama dengan sektor terkait.

PENGKAJIAN KESEHATAN WANITA

May 5th, 2009

A. Pendahuluan

Kesehatan wanita banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Wanita sering dicitrakan sebagai makhluk yang lemah dan harus selalu mengalah dan berkorban. Anggapan seperti tersebut, jelas merugikan kesehatan wanita.

Contoh perilaku dalam upaya peningkatan kesehatan wanita, yaitu : ibu hamil makan 1 1/2 porsi lebih banyak dari wanita yang tidak hamil, wanita membiasakan diri berolahraga secara rutin, wanita mengkonsumsi makanan yang bergizi dan membiasakan sarapan pagi, memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur, tidak merokok, tidak minum minuman keras, tidak mencandu narkoba, tidak bersenggama pada saat menstruasi, melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang sah, menyusui dan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

B. Aspek Pengkajian

Aspek pengkajian dalam kesehatan wanita meliputi :

1. Aspek Fisik

Aspek fisik yang perlu dikaji dalam lingkup kesehatan wanita sama dengan pengkajian yang dilakukan pada manusia dewasa, antara lain :

a. Kondisi fisik (tanda-tanda vital)

b. Nutrisi

c. Cairan dan elektrolit

d. Higiene personal

e. Istirahat – tidur

f. Kasih sayang dan seks

g. Aktualisasi diri

h. Rasa aman dan nyaman

2. Aspek Psikososial

Aspek psikososial yang dikaji, meliputi :

a. Identitas seksual à perubahan fisik dan sikap dari wanita yang menunjukkan identitasnya sebagai wanita

b. Identitas kelompok à kepuasaan hidup dalam sebuah kelompok dan penerimaan

c. Konsep diri (peran, identitas diri, gambaran diri atau citra tubuh, harga diri)

d. Kecemasan dan masalah kehidupan

e. Kondisi lingkungan sosial

f. Faktor pendukung dari keluarga dan masyarakat

g. Komunikasi atau hubungan dalam kelompok, keluarga dan masyarakat (perasaan dihargai)

C. Indikator Pemantauan

Secara kronologis, setiap wanita mengalami berbagai fase dalam kehidupannya. Proses ini berlangsung secara alamiah yang wajar terjadi pada setiap wanita.

Fase dalam kehidupan wanita :

1. Lahir dan prapubertas

  1. Fisik

· Terbentuknya bakal organ seks saat janin berusia 12 minggu

· Sejak bayi, wanita sudah memiliki 2 indung telur

· Pada masa ini sel telur belum matang

· Belum menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder

  1. Psikososial

Anak perempuan diarahkan untuk mengikuti budaya yang berkembang dilingkungan tempat anak perempuan tersebut diasuh, misalnya :

· Anak perempuan harus jongkok saat BAK sedangkan anak laki2 berdiri

· Anak perempuan diajarkan untuk bersolek

· Rambut anak perempuan dibiarkan panjang atau dipotong dengan model yang feminisme

· Anak perempuan dididik untuk bersikap feminim

2. Pubertas

  1. Fisik

· Mulai terbentuk sel telur matur

· Produksi hormon estrogen karena pengaruh matangnya sel telur

· Mulai tumbuh tanda-tanda seks sekunder, misalnya : tumbuh payudara

  1. Psikososial

· Wanita mulai tertarik pada lawan jenis dan mulai merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya

3. Reproduksi

  1. Fisik

· Wanita mengalami masa menstruasi, dengan keluarnya darah dari vagina

· Wanita memasuki usia reproduktif

· Sel telur dapat dibuahi

· Jika melakukan hubungan intim dengan lawan jenis, wanita dapat hamil

· Bekerjanya hormon indung telur (estrogen dan progesteron)

  1. Psikososial

· Wanita mulai cemas karena proses menstruasi

· Wanita mulai mencari identitas diri, gambaran diri yang dipengaruhi kelompoknya

· Bergaul dan berkumpul dengan teman-teman yang berjenis kelamin sama

4. Premenopause

  1. Fisik

· Kekuatan otot dan kecakapan mental mulai mencapai puncaknya

· Dimulai proses penuaan

· Penurunan hormon kewanitaan berangsur menurun

· Proses menstruasi yang tidak teratur

· Perasaan panas di sekitar wajah (hot flash)

· Produksi keringat yang berlebihan

· Kulit menjadi kusam dan kasar

· Rambut cenderung kering dan rapuh

· Perasaan adanya gangguan dalam hubungan intim

· Kesulitan vagina mengalami lubrikasi, sehingga timbul rasa tidak nyaman saat bersenggama

  1. Psikososial

· Wanita lebih banyak menarik diri dari lingkungannya

· Wanita lebih sering merasa tersiggung, mudah cemas dan sangat sensitive

· Gelisah karena menghadapi proses penuaan

5. Menopause

  1. Fisik

· Hilangnya hormon kewanitaan

· Menstruasi tidak muncul lagi

· Organ reproduksi tidak berfungsi lagi

· Berat badannya sulit dikendalikan

· Terjadi timbunan lemak di beberapa tempat karena ketiadaan hormon kewanitaan

· Wanita sering mudah merasa lelah

· Penyakit degeneratif (penyakit jantung, DM, gangguan ginjal dan osteoporosis) mudah menyerang

  1. Psikososial

· Wanita mulai mencapai kematangan hidup

6. Senium

a. Fisik

· Lemasnya otot-otot yang membuat struktur tubuh menjadi bengkok

· Gangguan sendi mulai sering timbul

· Berat badan cenderung berkurang

· Penurunan daya guna tubuh

· Kekuatan otot dari saat usia 20 tahun

· Kekuatan pendengaran pada frekuensi menurun sampai 75%

· Terjadi penurunan intelektual

· Kemungkinan dapat terjadi gangguan otak secara organik

b. Psikososial

· Terjadi perubahan sifat, misalnya : dari pemurung menjadi periang, dari pemberani menjadi penakut atau sebaliknya

· Sering timbul perilaku yang sulit diterima karena terjadi gangguan otak organik

Hello world!

March 10th, 2009

Welcome to blognya staff dan dosen uns (universitas sebelas maret). This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Search
Categories